Rabu, 28 November 2012

Al Hikam - Hikmah Ke 115 (29/10/2012)

Assalamu'alaikum Wr Wb.

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم 

Senin, 29 Oktober 2012

Just share, afwan bila ada yg salah atau kurang..

Sedikit berbagi, pendengaran Kutipan al faqir dalam pengajian Buya Yahya dengan Kajian Kitab Al-Hikam Ibnu AThoillah Assakandari & Kitab Mukhtashor Ibnu Abi Jamroh (Ringkasan Shohih Bukhori) setiap senin malam selasa di Masjid Raya ATTAQWA Cirebon :

♥ Syukur kita ini, untuk mendapatkan nikmat Allah yang lain. Nikmat yang kita dapat pada saat kita mensyukuri nikmat yang kita dapat, itulah nikmat yang sesungguhnya.
♥ Semua nikmat yang Allah beri dan kita syukuri adalah hakekat nikmat, yaitu nikmat yang kita dapat dengan syukur kita. Nikmat besar dalam kehadiran kita dalam majelis dan kebaikan lain yang mulia, buah daripada syukur dari nikmat kita yang lalu.

~ Kitab Mukhtashor Ibnu Abi Jamroh ~
Hadist ke 96
Dari Sayyidina Abdullah ibn Abbas RA, beliau berkata aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa menggambar satu gambar maka Allah menyiksanya, menghukumnya, sampai ia bisa menuiupkan ruh kepada gambarnya, dan orang itu tidak akan bisa meniupkan ruh ke gambar tersebut selamanya"

Pelajaran yang bisa diambil :
* Para ulama ushul fiqih , mereka mencermati bahasa itu sendiri, Tahqikul manath -> Suroh/foto/gambar : Maka perlu dimaknai apa yg dimaksud gambar pada jaman nabi, maka jaman Rasulullah dengan sekarang perlu dipahami maksudnya.
* Hadist lain: "Mereka yang membuat gambar-gamba ini akan disiksa di hari kiamat, dan diperintah menghidupkan apa yang mereka buat" (HR. Imam Bukhori)
* Maka kita datangkan , kira-kira Suroh yang dimaksud Nabi itu apa ?
* Dalam Suatu riwayat dirumah Yasr ibn Humair ada patung Sayyidah Maryam, aku mendengar Nabi SAW, "Paling pedihnya siksa di hari kiamat itu adalah yang membuat gambar", yaitu gambar pada jaman tsb adalah patung.
* Gambar yang dimaksud Rasulullah ini adalah patung-patung, dan ulama menyimpulkan 5 pendapat :
1. Yang disepakati boleh ->Mutlak Halal -> Gambar sesuatu yang tidak bernyawa, pohon, gunung, lautan.
2. Mutlak haram -> Gambar yang berjasad/berbentuk -> Patung, baik dari batu atau kue dll, pengecualian untuk boneka untuk anak kecil sebagai permainan.
3. Yang bernyawa tapi tidak berbentuk -> Gambar -> Jangan dimasukkan fotografi, jadi lukisan, gambar yang tidak berjasad tapi berbentuk dan tidak bernyawa dsb, dalam hal ini berbeda pendapat kebanyakan ulama berkata Haram. Dan ada sebagian ulama yang mengatakan tidak sampai ke haram, yaitu kecuali goresan tangan/tidak berbentuk misal yang ada di baju maka itu dimaafkan.
4. Boleh -> Fotografi bukan sesuatu yang harom, tidak masuk pada hal tersebut, karena bukan membuat sesuatu yang baru, kalau lukisan ini karya saya. Fotografi dari sebagian mengatakan haram untuk menghindari seseorang mengagungkan kepada foto/dewa dewi. Akan tetapi ada Foto yang "Mutlak Haram", yaitu foto yang dihadirkan membangkitkan syahwat.
5. Diperkenankan jenis gambar yang berbentuk untuk permainan anak kecil


~ Kitab Al-Hikam Ibnu AThoillah Assakandari ~
Hikmah ke 115
" Allah mengetahui tentang dirimu adanya sifat bosan, maka Allah memodel-model bentuk ketaatan (membuat bentuk ketaatan itu bermacam-macam), dan Allah juga tahu, ada diantara kalian itu punya sifat berlebihan (misal ibadah terus saja), dan dua-duanya itu menyebabkan berhentinya amal, maka Allah melarang ibadah darimu disebagian waktu, agar menjadi semangatmu itu untuk menegakkan sholat bukan untuk mewujudkan sholat, karena tidak semua orang yang melakukan sholat itu menegakkannya"

Pelajaran yang bisa diambil :
* Manusia itu cepat bosan, termasuk dalam ibadah, sama halnya dengan makanan yang mudah membuat bosan. perlu sesaat ini dan itu.
* termasuk tanda kasih sayang Allah kepada kita, ada puasa ada dzikir, ada sholat dll
* Seperti halnya jasad perlu makanan seperti itu, begitu pula ruh kita, sholat setelah itu membaca Al-Qur'an, atau sibuk tak dapai i'tikaf maka dilengkapi dengan puasa, dan ibadah lainnya
* Untuk melawan hawa nafsu harus disiasati, ibadah yang di ikuti hawa nafsu maka akan bisa berhenti pada waktunya nanti, akan bosan, agar tidak bosan, maka perbanyaklah model/macam2/warna ibadah kita. Warna warninya ini menghibur hati kita
* Jangan sampai kita ibadah ini dengan hawa nafsu, biarpun engkau hobi puasa, tapi jika waktunya harom seperti tasyrik dll maka itu tak boleh dilakukan, begitu pula sholat jangan menggunakan waktu yang dilarang seperti seletah shubuh / ashar (yaitu 1. sholat sunnah mutlak, 2. sholat sunnah yang sebabnya belum [misal sholat istikhoroh dan hajat]), tapi jika anda ingin mengqodho sholat itu diperkenankan
* Hali ini untuk bertafakkur, sehingga kita ini harus menyadari bahwa ibadah itu patuh kepada Allah. Tak ada ibadah dengan hawa nafsu, tapi ibadahlah untuk Allah, mengabdi kepada Allah, mengikuti petunjuk Allah bukan hawa nafsu kita
* Kalau kita sudah paham masalah ini, Ibn Athoilah mencontohkan sholat, orang kalau faham dalam melaksanakan sholat, Kalau engkau melakukan sesuai tuntunan untuk mengabdi kepada Allah secara sesungguhnya, tapi tidak hanya rukun-rukun sholatnya sholat itu tapi iqomatussholah.
Tapi kalau sekedar melakukan sholat, maka tidak akan ada sanjungan dari Allah
* Maka orang yang melakukan sholat tidak sesuai dengan aturan Allah, maka itu bukan sholat karena Allah tapi hawa nafsu. Dan jadilah ibadah yang anda lakukan itu adalah irama mengabdi kepada Allah SWT

# Hikmah yang dapat diambil :
* Hikmah Kasih sayang Allah kepada kita untuk melakukan ibadah itu semua.
Bagaimana? -> Disaat dilarang sholat maka jangan sholat, dan disaat jangan puasa maka jangan puasa.
* Tidak semua orang yang mengerjakan sholat itu menegakkannya, tidak semua orang yang membaca Al-Qur'an merenunginya, yang diminta Allah bagaimana waktumu untuk merenungi Al Qur'an bukan waktumu untuk menghatamkan Al Qur'an. Jenis dengan kadarnya dalam ibadah, kalau sudah dipatuhi keduanya adalah ibadah, misal sholat dhuha itu dua sampai delapan rakaat. Maka patuhilah itu, adapun waktu, semakin banyak waktunya maka semakin bagus. Misal juga tarawih 20 raka'at itu sempurnanya, misal 16 raka'at itu boleh tapi tak dapat kesempurnaan untuk kadarnya tersebut.
Untuk membaca Al Qur'an 12 jam khatam dengan 12 jam merenungi, maka yang merenungi itu lebih bagus. Karena membaca Al Qur'an itu tidak ada kadar ketentuan, tapi tadabbur dan merenungi Al Qur'an lebih utama.
* Fahamilah kasih sayang Allah kepada kita untuk ibadah kepada Allah yg terus menerus, sebab berhentinya amal sehingga bosan, terlalu banyaknya amal sehingga capek, maka harus dihentikan. Dan ternyata bentuk-bentuk ibadah itu bermodel-model, ubah ibadahmu sesuaikan dengan dirimu, ibadah yang melawan hawa nafsunya itu yang paling bagus, kalau orang pelit maka ibadahnya bukan puasa tapi sedekah, Sebaik-baik ibadah itu adalah sesuai penyakitnya sendiri (Sombong -> mengaku bahwa Allah yang Maha besar, Pelit-> lakukan sedekah, dll), penyakit itulah yang harus kita lawan.

Semoga keisiqomahan kita ini terjaga...

Wallahu a'lam bisshowab

♥ Muslimah ♥





~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Kunjungi Website Buya Yahya di www.buyayahya.org
Gabung bersama RadioQU melalui streaming di www.radioquonline.com
Gabung bersama sahabat Muslimah di Facebook https://www.facebook.com/pages/Muslimah/275415002532566

Tidak ada komentar:

Posting Komentar